Minggu, 22 Januari 2012

MATERI BAB II KELAS XI (PERILAKU TERPUJI) SOLIDARITAS, TASAMUH, TA'AWUN, DAN ZUHUD


·         Solidaritas artinya perasaan yang terwujud dalam perasaan senasib, sepenanggungan, setiakawan, sikap peduli terhadap orang lain atau saling memberi jaminan yang dimiliki manusia.
Secara istilah sikap perduli terhadap suatu penderitaan yang dialami oleh orang lain, seolah-olah merasa pahitnya penderitaan yang dialami tersebut, sehingga terpangil hatinya untuk segera membantu meringankan beban yang dialami.

Allah berfirman dalam Q.S Ali Imran 103 .

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Artinya : Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
Hikmah perilaku solidaritas
1.      Mendapat banyak teman
2.      Dapat membantu meringankan beban orang lain
3.      Terhindar dari ancaman dan permusuhan


·         Tasamuh secara bahasa artinya toleransi, tenggang rasa, saling menghargai, secara istilah artinya suatu sikap yang senantiasa saling menghargai antar sesama manusia.
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3)
Artinya : 1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, 2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. 3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.
Orang yang memiliki sikap tasamuh atau toleran, adalah orang yang memiliki sikap terpuji. Selain itu,akan mendapatkan hikmah dari perilakunya tersebut, hikmah nya antara lain
1.      Dapat menjaga kerukunan dan keharmonisan dalam bergaul
2.      Dapat memperluas pergaulan
3.      Dapat menunjukan sikap jiwa besar

·         Ta’awun artinya tolong menolong /  saling membantu
Secara istilah sikap ta’awun artinya sikap kebersamaan dan rasa saling memiliki dan saling membutuhkan antara satu sama lain, sehingga dapat mewujudkan suatu pergaulan yang harmonis dan rukun.
Allah berfirman dalam Qur’an Surat Al-Maidah ayat 2.
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (2)
Artinya : Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.
Dari ayat di atas, menegaskan bahwa sikap tolong menolong harus di tanamkan dalam setiap sanubari muslim agar “Dalam hidup terjadi kerukunan dan kedamaian “.
Hikmah bersikap ta’awun
1.      Dapat menciptakan banyak teman dan saudara
2.      Dapat menjalin kebersamaan dan kekeluargaan
3.      Mendapat pahala dari allah SWT.

·         Zuhud artinya menjauhi  kemewahan dunia atau gemerlap kehidupan dunia yang bersifat materi
Orang yang memiliki sifat zuhud disebut zahid artinya selalu berupaya menjaga diri agar tidak terkena tipu daya kemewahan dunia.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-An’am : 32

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Artinya: Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka[468]. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya ?

Maksudnya: kesenangan-kesenangan duniawi itu hanya sebentar dan tidak kekal. Janganlah orang terperdaya dengan kesenangan-kesenangan dunia, serta lalai dari memperhatikan urusan akhirat.

Hikmah sifat zuhud antara lain
1.      Terhindar dari tipu muslihat kemewahan dunia
2.      Dapat trehindar dari perbuatan setan yang terkutuk
3.      Dapat mengunakan harta sesuai dengan petunjuk agama.


MATERI KELAS XII. BAB II (PERILAKU TERPUJI) KREATIF, DINAMIS, SABAR DAN TAWAKAL

PRILAKU TERPUJI Kreatif, Dinamis, Sabar, Dan Tawakal • KREATIF berasal dari bahasa inggiris “create” artinnya yang menciptakan sesuatu atau membuat. Sedangkan menurut istilah kreatif berarti suatu sikap yang selalu ingin berusaha membuat atau menciptakan sesuatu yang baru yang memiliki manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. • Kreatif juga diartikan giat bekerja, tekun bekerja, dan rajin berikhtiar Berikut ini unsur kreatif : 1. Berusaha mencipta hal yang baru 2. Memohon keberhasilan pada Allah SWT 3. Ridha menerima apa yang telah di karyakan 4. Selalu ingin mengetahui hal-hal yang baru 5. Hasil karyanya selau membawa manfaat Dalil yang berkaitan dengan kreatif 1. QS Az-Zumar : 9 أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ Artinya : (Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. 2. QS An-Nahl : 17 أَفَمَنْ يَخْلُقُ كَمَنْ لَا يَخْلُقُ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ Artinya : Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa) ?. Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. Ayat diatas menerangkan tentang perbedaan antara orang-orang yang mampu menciptakan sesuatu dengan orang yang tidak menghasilkan karya apa-apa. Juga perintah untuk berpikir tentang hal baru. Hikmah berperilaku kreatif a. Manusia akan selau ingin berusaha menemukan hal yang baru b. Memberikan manfaat kepada orang lain dari hasil temuanya c. Berpikir tentang masa depan (futuristik) • DINAMIS Pengertian Dinamis secara bahasa ingin selalu bergerak, perubahan ke arah yang lebih baik. Lawannya adalah sikap Statis (diam tak berubah/sama). Allah berfirman dalam Al-Quran surat An-Najm : 39-40 وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى (39) وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَى Artinya : dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya (39),. dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya)(40). لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ Artinya : Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah[767]. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[768] yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. Ar-ra’d : 11) Allah SWT menegaskan dalam ayat tersebut bahwa segala perbuatan manusia akan selalu di awasi oleh malaikat yang selalu mengikutinya. Manusia tidak akan memperoleh suatu keberhasilan tanpa adanya usaha dari manusia sendiri. Hikmah bersikap dinamis 1. Manusia akan selalu berusaha keras guna menperoleh keberhasilan 2. Menginginkan keberhasilan/sukses dalam menjalani hidup 3. Bekerja dengan kemampuanya dan sepenuh hati 4. Memiliki dinamika daya juang tinggi. • SABAR Pengertian sabar secara bahasa adalah sikap teguh hati, tidak mengeluh ketika ada cobaan yang menimpa. Dalam pandangan agama Islam sabar diartikan sebagai suatu sikap menerima ujian-ujian dari Allah SWT, dengan tujuan memperoleh ridhanya.. Secara istilah sabar adalah suatu kekuatan daya positif mendorong jiwa untuk menunaikan kewajiban dan juga merupakan suatu kekuatan yang menghalangi seseorang melakukan kejahatan. Sabar dari segi perwujudanya di bagi menjadi 1. Sabar dalam ibadah, yaitu dengan tekun dan tertib melaksanakan syarat-syarat, rukun wajib, dan sunnah dalam ibadah 2. Sabar dalam menghadapi malapetaka (musibah). Keteguhan menerima musibah sebagai ujian keimanan dari Allah SWT. Contoh : kemiskinan, kematian, sakit Dll 3. Sabar terhadap maksiat artinya bisa mengendaliakan diri agar tidak terjerumus melakukan perbuatan maksiat. 4. Sabar dalam perjuangan, yaitu dengan menyadari sepenuhnya bahwa setiap perjuangan tidak selamanya berhasil sesuai dengan rencana kita. Allah SWT berfirman dalam : a. Al-Qur’an Surat Al-Baqarah : 45 وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ Artinya : Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', b. Al-Qur’an Surat Al-Baqarah : 153 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu[99], sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. c. Al-Qur’an Surat At-Thaha : 130 فَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَى Artinya : Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang, Hikmah bersikap sabar 1. Kesuksesan dunia dan Akhirat 2. Meningkatkan keimanan dan ketakwaan manusia terhadap Allah SWT 3. Mendorong manusia menunaikan kewajibanya kepada Allah SWT 4. Dapat mengendalikan/menghindari diri dari perbuatan yang dilarang Allah SWT 5. Teguh dalam menerima cobaan. • TAWAKAL Pengertian tawakal secara bahasa adalah berserah diri, mempercayakan diri. Secara istlah tawakal artinya mempercayakan diri kepada Allah SWT. Dalam segala rencana, bersandar kepada kekuatanya dalam melaksanakan suatu pekerjaan, berserah diri di bawah lindungannya pada waktu menghadapi kesukaran. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat : 1. Al-Qur’an Surat Ali Imran : 159 فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[246]. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. 2. Al-Qur’an Surat Hud : 123 وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ Artinya : Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. ayat diatas maksudnya adalah dengan sifat tawakal kita akan berprilaku lemah lembut terhadap sesama manusia dan akan selalu mengembalikan segala permasalahan yang kita hadapi hanya kepada Allah SWT. Hikmah sikap bertawakal : 1. Orang yang bertawakal akan memiliki sikap optimis 2. Tidak akan ragu-ragu terhadap masalah yang dihadapi 3. Mendapat prtolongan dari Allah SWT 4. Tidak sombong karena segala sesuatu hanya milik Allah SWT

Sabtu, 14 Januari 2012

5 Keistimewaan Beristigfar

Muhammad Shalih Al-Khuzaim dalam bukunya Shifat Shalat Qiyamullail, menjelaskan bahwa istighfar merupakan penutup amal saleh, penutup shalat, haji, puasa, dan juga penutup majelis. Istighfar berfungsi untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang diperbuat selama melaksanakan ibadah tersebut. Selain itu, istighfar juga sebagai penyebab utama mendapatkan ampunan Allah SWT. Karena itu, setiap Muslim hendaknya memperbanyak istighfar dalam berbagai kesempatan. Minimal mengucapkan: Astaghfirullah, Rabbighfirli, Allahummaghfirli, dan yang lainnya. Melalui istighfar tersebut seseorang akan memperoleh banyak keutamaan. Pertama, dihapus kejelekannya dan diangkat derajatnya. “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nisa’ [4]: 110). Kedua, dilapangkan rezeki, anak, harta, dan penyebab turunnya hujan. “Maka Aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” (QS Nuh [71]: 10-13). Ketiga, ditambah kekuatannya. “Dan (dia berkata): ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa’.” (QS Hud [11]: 52). Keempat, dilenyapkan dosanya. Setiap dosa meninggalkan noda hitam pada hati. Noda hitam bisa lenyap dengan melakukan istighfar. “Sesungguhnya bila seorang Mukmin melakukan satu dosa, pada hatinya timbul satu noda hitam. Bila dia bertobat, berhenti dari maksiat, dan beristighfar, niscaya mengilap hatinya.” (HR Ahmad). Kelima, dimudahkan segala urusannya. “Barangsiapa membiasakan diri untuk beristighfar, Allah akan memberikan jalan keluar baginya dari setiap kesulitan, akan memberikan kebahagiaan dari setiap kesusahan, dan akan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah). Untuk itu, ketahuilah, dalam sebuah atsar disebutkan bahwa, “Sesungguhnya Iblis pernah berkata: ‘Aku membinasakan manusia dengan dosa, dan mereka membinasakanku dengan La Ilaha Illallah dan istighfar’.” Wallahu a’lam.

Kamis, 12 Januari 2012

ORANG-ORANG YANG DIDOAKAN OLEH MALAIKAT

nsya Allah berikut inilah orang - orang yang didoakan oleh para malaikat : 1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci". (Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37) 2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'" (Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469) 3. Orang - orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan" (Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130) 4. Orang - orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf). Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf" (Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272) 5. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu". (Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782) 6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat ( berdoa ) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya,(para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'" (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini) 7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara berjama'ah. Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'" (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir) 8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'" (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' ra., Shahih Muslim no. 2733) 9. Orang - orang yang berinfak. Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'" (Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010) 10. Orang yang sedang makan sahur.Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada orang - orang yang sedang makan sahur" Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa "sunnah" (Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519) 11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh" (Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya shahih") 12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain" (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh l Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343) Sumber Tulisan Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi (Orang -orang yang Didoakan Malaikat, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005

Iman Kepada Malaikat

Iman Kepada Malaikat

Berbohong untuk kebaikan

Walau pada dasarnya, berbohong hukumnya haram, tetapi dalam keadaan tertentu, Islam memberikan kelonggaran. Namun, ia bukan dalam konteks yang terlalu ketat. Rasulullah SAW menyatakan, seseorang yang berbohong dengan niat ingin mendamaikan orang lain atau untuk tujuan kebaikan dalam masyarakat, dia tidak dianggap berbohong, jadi hukumnya boleh, bahkan bisa hukmunya jadi wajib berbohong bila tujuannya untuk menyelamtakan jiwa sesorang. Berbohong Menurut Pandangan Islam Berbohong menurut pandangan Islam berdasarkan Al Qur’an dan Hadis: HR. Bukhari Muslim dari Ibnu Mas’ud: “Kejujuran menuntun pada kebajikan, kebajikan dapat menghantarkan ke surga. Sesungguhnya kebohongan itu menyeret manusia pada kejahatan , sedang kejahatan itu dapat menyeret pada neraka.” (berbohong hukumnya haram) HR. Bukhari dari Ibnu Abas: ” Barangsiapa mengaku bermimpi sesuatu padahal dia tidak memimpikannya maka ia akan dituntut untuk menyambung dua ujung rambut.” Bahkan berbohong dalam Islam dipandang sebagai salah satu sifat kekufuran dan kemunafikan. Di dalam Al-Qur’an Alloh SWT berfirman, “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah mereka yang tidak mengimani (mempercayai) tanda-tanda kekuasaan Alloh. Mereka adalah kaum pendusta”. (An-Nahl: 105) Rasulullah SAW pun menggolongkan mereka yang berdusta termasuk orang-orang yang memiliki karekteristik kemunafikan. Beliau bersabda, “Empat hal jika semuanya ada pada seseorang ia adalah munafik semurni-murninya munafik. Jika satu di antara yang empat itu ada pada dirinya maka padanya terdapat saru sifat kemunafikan hingga ia dapat membuangnya; Jika berbicara ia berduta, jika diberi amanah ia khianat, jika berjanji ia melanggar dan jika membantah ia berbohong.” (HR. Bukhori Muslim) Bohong Adalah Sifat Orang Munafik Mungkin kita sering mendengar kata munafik di dalam kehidupan sehari-hari kita. Kata munafik atau muna mungkin kita anggap tidak begitu kasar di telinga kita karena kata itu jarang kita dipublikasikan di media massa. Namun sebenarnya munafik adalah suatu sifat seseorang yang sangat buruk yang bisa menyebabkan orang itu dikucilkan dalam masyarakat. Hadits Nabi Muhammad SAW Tentang Orang-Orang Munafik “Tanda orang-orang munafik itu ada tiga keadaan. Pertama, apabila berkata-kata ia berdusta. Kedua, apabila berjanji ia mengingkari. Ketiga, apabila diberikan amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya”.(Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim). 1. Berbohong Bohong adalah mengatakan sesuatu yang tidak benar kepada orang lain. Jadi apabila kita tidak jujur kepada orang lain maka kita bisa menjadi orang munafik. Contoh bohong dalam kehidupan keseharian kita yaitu seperti menerima telepon dan mengatakan bahwa orang yang dituju tidak ada tetapi pada kenyataannya orang itu ada. Contoh lainnya seperti ada anak ditanya dari mana oleh orang tuanya dan anak kecil itu mengatakan tempat yang bukan dikunjunginya. 2. Ingkar Janji Seseorang terkadang suka membuat suatu perjanjian atau kesepakatan dengan orang lain. Apabila orang itu tidak mengikuti janji yang telah disepakati maka orang itu berarti telah ingkat janji. Contohnya seperti janjian ketemu sama pacar di warung kebab bang piih tetapi tidak datang karena lebih mementingkan bisnis. Misal lainnya yaitu seperti para siswa yang telah menyepakati janji siswa namun tidak dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab. 3. Berhianat Khianat mungkin yang paling berat kelasnya dibandingkan dengan sifat tukang bohong dan tukang ingkar janji. Khianat hukumannya bisa dijauhi atau dikucilkan serta tidak akan mendapatkan kepercayaan orang lagi bahkan bisa dihukum penjara dan denda secara pidana. Contoh berkhianat yaitu seperti oknum anggota TNI yang menjadi mata-mata bagi pihak asing atau teroris. Contoh lainnya yaitu seperti seorang pegawai yang dipercaya sebagai pejabat pajak seperti Gayus Tambunan, namun dalam pekerjaannya dia menyalahgunakan jabatan yang digunakan dengan cara menilep uang setoran pajak. Bohong Yang Dibolehkan Dalil-dalil di atas menunjukan dengan tegas bagaimana kecaman Islam terhadap kebohongan dan orang-orang yang melakukannya. Namun demikian Rasulullah SAW memberikan pengecualian terhadap tiga kebohongan yang boleh (mubah) dilakukan oleh seorang muslim Hadits-hadits shahih tentang bolehnya berbohong pada kasus-kasus tertentu 1. Hadits Ummu Kultsum: عن أم كلثوم بنت عقبة أخبرته : أنها سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول : ليس الكذاب الذي يصلح بين الناس فينمي خيرا أو يقول خيرا Artinya: Dari Ummu Kultsum binti Uqbah mengabarkan bahwa dia mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Bukanlah pendusta orang yang mendamaikan antara manusia (yang bertikai) kemudian dia melebih-lebihkan kebaikan atau berkata baik”. [Muttafaqun 'Alaih] Di dalam riwayat Al Imam Muslim ada tambahan: ولم أسمع يرخص في شيء مما يقول الناس كذب إلا في ثلاث الحرب والإصلاح بين الناس وحديث الرجل امرأته وحديث المرأة زوجها Artinya: “Dan aku (Ummu Kultsum) tidak mendengar bahwa beliau memberikan rukhsah (keringanan) dari dusta yang dikatakan oleh manusia kecuali dalam perang, mendamaikan antara manusia, pembicaraan seorang suami pada istrinya dan pembicaraan istri pada suaminya“. 2. Hadits Asma’ binti Yazid عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ يَحِلُّ الْكَذِبُ إِلاَّ فِى ثَلاَثٍ يُحَدِّثُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ لِيُرْضِيَهَا وَالْكَذِبُ فِى الْحَرْبِ وَالْكَذِبُ لِيُصْلِحَ بَيْنَ النَّاسِ ». وَقَالَ مَحْمُودٌ فِى حَدِيثِهِ « لاَ يَصْلُحُ الْكَذِبُ إِلاَّ فِى ثَلاَثٍ ». قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ لاَ نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ أَسْمَاءَ إِلاَّ مِنْ حَدِيثِ ابْنِ خُثَيْمٍ. Artinya: Dari Asma’ binti Yazid dia berkata: Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Bohong itu tidak halal kecuali dalam tiga hal (yaitu) suami pada istrinya agar mendapat ridho istrinya, bohong dalam perang, dan bohong untuk mendamaikan diantara manusia”. Tiga Keadaan Seseorang Boleh Berbohong Dari Ummu Kultsum RA ia berkata:”Saya tidak pernah mendengar Rasulullah SAW memberi kelonggaran berdusta kecuali dalam tiga hal: [1] Orang yang berbicara dengan masud hendak mendamaikan, [2] orang yang berbicara bohong dalam peperangan dan [3] suami yang berbicara dengan istrinya serta istri yang berbicara dengan suaminya (mengharapkan kebaikan dan keselamatan atau keharmonisan rumah tangga)”. (HR. Muslim) Tidak mungkin dapat diterima jika orang yang hendak mendamaikan pihak-pihak yang berselisih menyampaikan apa yang oleh satu pihak kepada pihak lain. Itu pasti akan lebih mengobarkan api yang sedang menyala. Ia harus berusaha meredakan suasana, jika perlu ia boleh menambah-nambah dengan berbagai perkataan yang manis dan tidak menyebut cercaan atau umpatan pihak yang satu terhadap pihak yang lain. Dalam suasana perang pun tidak masuk akal jika orang memberi informasi kepada musuh, membuka rahasia pasukannya sendiri, atau memberitahu musuh tentang informasi-informasi yang mereka butuhkan. Rasulullah SAW bersabda, “Perang itu adalah tipu daya” Demikian pula, tidak bijaksana jika seorang istri berkata terus terang kepada suaminya tentang perasaan kasih sayangnya terhadap lelaki lain sebelum pernikahannya dengan suami sekarang padahal perasaan itu sendiri sudah hilang ditelan waktu.Atau pun suami mengkritik secara terbuka makanan yang dengan susah payah dimasakan oleh istrinya bahwa ini tidak enak, kurang sedap, atau terlalu asin misalnya.. Akan lebih bijaksana jika suami mengatakan makanan ini sangat lezat (meskipun pada kenyataannya memang enak) hanya saja mungkin perlu tambahan ini dan itu. Berbohong Karena Mempertahankan Aqidah (Iman) Begitu juga untuk menjaga akidah, sekiranya seseorang dipaksa untuk mengucapkan sesuatu yang berlawanan dengan akidah, maka dia boleh berbohong. Namun, kebohongan itu dengan syarat, hatinya tetap dalam Islam. Hal ini mengingatkan kita pada kisah yang menimpa Ammar Yassir yang terpaksa mengaku kembali menyembah berhala saat dia disiksa dan selspas melihat ibunya Sumayyah dan bapaknya, mati ditikam Abu Jahal karena mempertahankan akidah. Rasulullah SAW ketika ditanya mengenai kedudukan Ammar selepas itu, menyatakan bahwa Ammar tetap terpelihara akidahnya karena dia dipaksa berbuat begitu dan hal itu di luar keinginan hatinya. Namun jika maksud yang baik itu tidak ada cara untuk mencapainya melainkan dengan berbohong, maka ketika itu berbohong adalah harus jika maksud yang ingin dicapai itu hukumnya adalah harus. Jika maksud itu wajib, maka berdusta ketika itu juga wajib (karena tidak ada cara lain lagi untuk mencapainya). Contohnya ada seorang muslim bersembunyi dari seorang lelaki zalim dan kita mengetahui tempat persembunyiannya. Kemudian si zalim itu bertanya kita tempat lelaki muslim itu bersembunyi. Ketika itu wajib kita berbohong, yakni tidak harus kita berkata benar dengan memberitahunya. Saya Juga Pernah Berbohong Demi Kebaikan Jujur, saya, penulis juga pernah berbohong. Begini ceritanya. Saat saya masih kuliah di Melbourne Australia (1990-1992), suatu Minggu, kami (vocal group University of Melbourne), mengisi salah satu acara dalam Perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 45 Tahun 1991. Kami menyanyikan beberapa buah lagu dengan baik dan mendapat sambutan hangat dari para penonton yang sebagian besar adalah masyarakat Indonesia. Kami mendapat pujian, bahkan dari seorang penyanyi cantik yang datang dari Indonesia, Ira Maya Sopha (sekarang saja mama Ira yang suka jadi juri perlombaan nyannyi di TV masih cantik kok)/. Selesai acara saya pulang ke rumah. Telepon di rumah kami tak henti-hentinya berdering dari masyarakat Indonesia. Akibatnya? Biasa, lupa diri, terbuai pujian. Saya lupa sebenarnya pada hari Minggu itu saya sudah janjian mau menelepon keluarga, bicara langsung dengan istri dan anak-anak. Waktu itu rumah kami belum ada telepon dan belum ada HP. Kan dulu telepon itu barang yang sangta mewah. Jadi kalau menelpon keluarga, saya harus janjian dulu, kapan dan dimana. Waktu itu sudah ditetapkan hari Minggu, anak-anak dan mamanya telah menunggu di rumah budenya anak-anak, kakak ipar saya di Bogor. Tapi akibat pujian di atas, saya lupa nelepon mereka. Malamnya menjelang tidur, baru saya teringat, bahwa tadi siang mestinya aku menelepon mereka. Aku segera menelepon ke Bogor. Di seberang sana kakak ipar saya langsung “nyerocos”, begini: “Gimana sih, kasihan anak-anak menunggu telepon seharian. Mereka sangta kecewa, seakarang udah pada pulang ke Depok”. Dengan sedikit gupup, terpaksa saya berbohong: “Maaf yuk, tadi dek Bakar sudah menelepon, tapi gak bisa masuk, ada gangguan barangkali”, (padahal tidak lho, saya memang tidak menelpon sama sekali).. Saya pikir waktu itu, seandainya saya berterus terang, dan bilang begini: “Maaf yuk, tadi lupa telepon ke sini, soalnya banyak yang menelpon kami, memuji penampilan kami nyanyi, termasuk Ira Maya Sopha”. Kan lebih menyakitkan hati?. Terpaksa deh bohong demi kebaikan. Sampai sekarang istri, anak-anak dan kakak saya belum tahu cerita ini. Mudah-mudahan, bila suatau saat mereka membaca “rahasia” ini di Kompasiana (anak saya sudah ada yang jadi Kompasianer), karena peristiwanya sudah lama berlalu, dan tujuannnya untuk kebaikan, cerita ini tinggal kenangan-untuk dijadikan pelajaran- bahwa manusia itu sangat lemah-mudah sekali lupa. Dalam kesempatan ini saya minta maaf pada istri dan anak-anakku. Kesimpulan: 1. Pada hakekatnya bohong adalah perbuatan tercela, termasuk dosa besar, apalagi membohongi orang banyak/ rakyat 2. Dalam keadaan tertentu, bohong hukumnya boleh bahkan bisa jadi wajib Yang benar datangnya dari Allah, yang salah karena kebodohan dan kekurangan saya, Semoga lebih banyak manfaatnya daripada mudharatnya.. Amin